Peluang Usaha Bisnis Percetakan Tanpa Bermodal Besar

Peluang Usaha Bisnis Percetakan

Berbisnis tidak harus mengeluarkan modal besar. Ini yang menjadi ketakutan setiap orang ketika memutuskan menggeluti dunia usaha. Belum saja memulai, mendengar namanya saja sudah membuat orang harus berpikir dua kali,

Konveksi dan percetakan misalnya. Bayangan umumnya memulai bisnis di dua sektor ini membutuhkan modal besar. Padahal tidak. Justru bisnis ini lebih bersifat jasa daripada produksi.

Bisa saja mengeluarkan modal besar. Catatan memulai dengan membeli mesin cetak sendiri. Modal besar pun harus keluar. Lantas bagaimana bisnis ini berjalan ketika tidak membutuhkan modal besar?

Peluang Usaha Bisnis Percetakan Modal Kecil

memulai-bisnis-percetakan

Andre terlihat, sibuk mendesain gambar pesanan dari konsumennya ketika ditemui kelambit. Dia salah satu pengusaha di bidang percetakan dan konveksi sablon.

Usaha ini bukan dunia baru bagi pria berusia 30 tahun ini. Sektor jasa itu sudah digelutinya ketika belum memiliki usaha sendiri. “Dulunya berkerja dengan orang lain. Sekarang sudah punya usaha sendiri. Masih dengan sektor yang sama di percetakan dan konveksi sablon,” kata Andre.

Dia mulai merintis usaha ini di tahun 2013. Ketika itu ia memutuskan berhenti bekerja dengan orang lain. Berbekal relasi, kemampuan desain yang baik serta memberikan pelayanan dan kualitas produksi yang baik, Andre mulai mencari pelanggan tetap.

Dia menilai itu adalah modal awal berbisnis. Padahal dirinya belum membeli mesin cetak. Namun usaha itu bisa tetap bisa berjalan. Berbagai jasa ditawarkan. Seperti cetak brosur, baliho, pamflet, spanduk, kartu nama, undangan, yasin dan lain-lain.

“Dulu harus berdua mengerjakannya. Alhamdulillah sekarang sudah ada empat karyawan,” kata pemilik Percetakan Raya Printing ini.

Usaha yang dibangunnya sudah tiga tahun berjalan. Karyawan pun bertambah. Begitu dengan mesin cetak, dia sudah memilikinya. Jumlah konsumen yang mengorder kian bertambah, meskipun bersifat relatif. Sehari bisa 30 orderan yang masuk.

Untuk memudahkan, konsumen tidak harus datang langsung untuk mengorder. Bisa via online, apakah itu media sosial seperti facebook, BBM atau email.

“Asalkan desain yang diinginkan jelas, pesanan bisa dikerjakan dengan baik. Meski orderan diterima secara online,” kata pria yang tinggal di Pal 9, Kabupaten Kubu Raya ini.

Menurut Andre, momen yang paling ramai saat pilkada atau pemilihan legislatif.

Tahun lalu, orderan yang masuk lumayan besar. Bayangkan saja, dia menerima 800 lembaran spanduk berbagai ukuran. Hanya saja dalam momen itu Andre mesti waspada jangan sampai pengorder malah tidak membayar.

Agar aman, dia selalu meminta uang panjar 50 persen dari total harga yang dipesan klien. Menurutnya, sistem itu lumrah. Tak hanya dirinya, sebagian besar pengusaha seperti dirinya juga memberlakukan sistem pembayaran demikian.Bahkan tak hanya pilkada atau pileg saja.

“Sistem itu juga berlaku untuk hari-hari biasa,” kata dia. Sayangnya Andre belum mau membuka omset yang diperolehnya setiap bulan.

Andalkan Relasi

Selain Andre, ada juga Novan yang tertarik menggeluti usaha ini. Namun usahanya belum terlalu besar. Dia bahkan tidak memiliki tempat khusus untuk menjalankan usahanya. Modal yang dimilikinya, hanya laptop yang kerap dibawa setiap pergi. Kemampuan mendesain gambar menjadi andalannya dalam mencari pelanggan.

“Saya lebih promosi via online. Dibantu kawan juga, dari mulut ke mulut untuk mendapatkan pelanggan,” kata dia.

Menurutnya, keuntungan yang diperoleh itu didapat dari potongan harga orderan yang masuk.

Dicontohkannya, ada orderan spanduk. Karena ada kedekatan dengan pemilik percetakan, dia pun mendapatkan potongan dari harga permeter. Sementara harga yang dijualnya ke konsumen sesuai dengan harga pasaran. Karena itu jelas dia, keuntungan setiap bulan besarannya relatif.

Tergantung dari ramai atau tidaknya pesanan. Jika sedang ramai, maka keuntungan yang diperolehnya lumayan besar. Hanya saja dia belum mau membuka berapa omzetnya sebulan.
“Setidaknya lumayanlah, bisa membiayai kehidupan selama satu bulan,” kata dia.

Leave a Reply