GILA! Bisnis Sampah ini Beromzet Ratusan Juta Rupiah!

bisnis sampah atau bisnis daur ulang sampah

Sumber: www.1hq.co.uk

Sebagian orang menggangap sampah adalah barang yang benar-benar tidak berguna. Bisa jadi kamu yang berpikiran seperti itu. Tapi tahukah kamu, sampah itu memiliki nilai yang fantasis? Dan tidak semua bisa menduganya.

Salah satunya Nadhariyat Syafei. Pria asal Kubu Raya Kalimantan Barat ini tidak menyia-nyiakan kesempatan mengumpulkan pundi-pundi rupiah dari sampah. Tetapi dia bukan pemulung lho… Yuk baca ceritanya!

Omzet Ratusan Juta dari Bisnis Daur Ulang Sampah

Dia mengumpulkan sampah dan kemudian diolah. Setelah itu diekspor keluar negeri.

Bagaimana bisa?

Pria berusia 26 tahun ini mungkin bukan orang pertama yang bergelut di bisnis daur ulang sampah. Dia belajar dari Indra Noviansyah yang sebelumnya sudah mendulang sukses dari bisnis ini.

Bisnis daur ulang sampah milik Indra Noviansyah tersebar di puluhan kota di Indonesia. Termasuk ke negara tetangga, seperti Brunei Darussalam.

Sampah-sampah ini diekspornya ke berbagai negara. Sebut saja Singapura, Malaysia, dan China.

“Ini yang menjadi motivasi saya. Apalagi sebelumnya saya sempat magang di tempat Pak Indra. Sehingga sudah tahu sistem pengolahannya. Proses dari hulu ke hilir, hingga di ekspor,” jelas dia.

Sama seperti Indra, sampah yang diolah Nadhariyat adalah jenis sampah deplastik. Seperti gelas, botol plastik, karung, helm, termasuk juga barang bekas lainnya. Sebelum dikirim, barang-barang diolah dulu menjadi pecahan kecil.

Jangan kira pabrik olah sampah milik Nadhariyat besar. Justru tidak sebesar yang dibayangankan. Jika masuk ke dalam, kamu bisa melihat tumpukan sampah yang menggunung.

Ketika di dalam, kamu dapat melihat mesin penggiling sampah, yakni plastic crusher. Sebelum diolah, sampah dipilah dulu, lalu dicuci, dan akhirnya digiling menjadi cacahan plastik kecil.

Dari tempat kecil itulah, Nadhariyat mengirimkan 20 ton sampah ke Jakarta untuk satu kontainer. Dalam sebulan dia bisa mengirim tiga hingga empat container.

“Semakin banyak tidak masalah. Tetapi rata-rata hasil penggilingan sehari mencapai
lima ton sampah,” kata dia.

Sampah- sampah ini diperolehnya dari pemulung. Harga jual setiap sampah tidak sama. Untuk botol plastik, perkilonya Rp 1000 sampai Rp 2000. Barang bekas seperti ember Rp 3000 sampai Rp 4000. Setelah diolah harga jualnya pun naik.

Bisnis sampah miliknya ini terus berkembang. Jika sebelumnya hanya tiga pekerja, sekarang bertambah menjadi belasan pekerja. Omsetnya pun tak tanggung-tanggung. Bisa mencapai 100 juta rupiah dalam sebulan.

Penjemput Sampah yang Dapat 6 Juta /Bulan dari Bisnis Sampah

Lain lagi dengan Hamdi. Meski belum sesukses Nadhariyat, pria berusia 60 tahun itu juga mengeruk keuntungan dari sampah. Pria yang tinggal di TPI ini sehari-harinya bekerja sebagai penjemput sampah dari rumah warga.

Dia dibayar sebesar 20 ribu rupiah hingga 30 ribu rupiah perbulan untuk satu kepala keluarga. Dengan menggunakan gerobak sepeda dia membawa sampah rumah tangga ke TPS di Jalan Komyos Sudarso, Kecamatan Pontianak Barat.

“Saya tinggal di TPI. Setiap harinya saya menjemput sampah dari Perum sampai ke Pal II.” kata dia.

Usaha ini sudah dilakoninya sejak tahun 1985. Saat ini sudah ada 200 rumah tangga yang menjadi pelangggan pria asa Teluk Pakedai ini. Padahal dulunya, Hamdi bekerja sebagai buruh bangunan.

Dia memilih tetap bertahap karena usaha ini menguntungkan. Dalam sehari saja Hamdi bisa mendapatkan uang 200 ribu rupiah hingga 300 ribu rupiah. Jika dihitung dalam sebulan, Hamdi bisa mendapatkan uang senilai 6 juta rupiah.

Pendapatan ini lebih besar diperolehnya ketimbang menjadi buruh bangunan.

“Saya sudah terbiasa dengan bau sampah, jadi tak perlu lagi pakai masker,” ucapnya.

Di lain tempat, Indra Noviansyah mau berbagi cerita mengenai bisnis sampah miliknya. Menurutnya, belum banyak yang melakoni bisnis sampah ini padahal menjanjikan keuntungan yang tidak sedikit.

Pelajaran Tentang Bisnis Sampah dari Indra Noviansyah

Jika berbicara Kalbar, baru dua wilayah yang ada usaha daur ulang sampah. Yakni Kabupaten Kapuas Hulu, Sanggau dan Kota Singkawang. Apalagi untuk ukuran Kota Pontianak, elum banyak yang melakoni bisnis ini.

Padahal jumlah sampah di kota khatulistiwa ini tidak sedikit. Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Pontianak mencatat dalam satu hari ada 350 ton.

Sampah Tidak akan Pernah Habis

Jumlah sampah yang datang akan meningkat ketika musim buah dan idul fitri. Peningkatannya sekitar 30 persen. Volume sampah akan meningkat ketika musim buah durian.

Indra menilai sampah tidak akan habis, selama masyarakat membutuhkan produk. Jadi, bahan baku dalam bisnis sampah ini tak akan pernah habis. Dirinya sudah membuktikan itu.

Sistem Franchise untuk Mengembangkan Bisnis Sampah

Bisnis pria berusia 26 tahun sudah tumbuh di 24 kota di Indonesia. Beberapa pemerintah daerah, seperti di Surabaya, Bandung dan Jakarta tertarik bekerja sama dengan Indra dalam pengolahan sampah. Efeknya pundi-pundi yang tak henti-hentinya mengalir ke kocek pria lulusan Fakultas Ekonomi ini.

Enam tahun lalu, Indra mengelola bisnis ini di Pontianak. Perkembanganya semakin pesat. Dia pun memutuskan untuk menyerahkan ke Nadhariyat Syafei. Sistemnya berbentuk franchise. Sistem ini juga yang berjalan di kota-kota lainnya, termasuk di Brunei Darussalam.

“Saya tidak bisa lagi fokus mengurus yang di sini. Makanya saya berikan kuasa penuh, agar Nadhariyat Syafei yang mengurus semuanya. Saya terima bersih di Jakarta,” kata dia.

Indra menyebutkan sistem itu akan tetap berjalan. Bagi yang berminat maka harus menyiapkan dana sesuai kesepakatan. Dari dana itu pemodal bisa mendapatkan mesin pengolahan sampah, peralatan, beserta pelatihan.

Indra mengingatkan pemodal agar tidak perlu takut, karena sampah yang diolah itu akan dibelinya lagi. Sehingga uang yang dikeluarkan untuk bergabung dalam bisnis ini tidak sia-sia.

“Saya membeli lagi 1000 hasil dari mitra. Pasar sudah terjamin, jadi wajar saja sistem seperti ini terjamin. Apalagi saya siapkan kontrak di depan notaris.” ujar pemilik usaha Limbahagia ini.

Sampah yang sudah didaur ulang, dikirim ke berbagai negara. Seperti Singapura, Malaysia dan China. Dia mencontohkan masing-masing dari daerah mengirim 10 ton sampah. Secara keseluruhan ada 24 mitra kerja. Jika ditotalkan maka 240 ton sampah yang diekspornya ke luar negeri.

Hanya saja setiap barang memiliki harga yang berbeda. Misalnya gelas dalam bentuk cacahan harganya bisa sampai 12 juta rupiah per ton. Untuk botol harganya berkisar 5 sampai 6,5 juta rupiah per ton. Sedangkan galon harganya antara 12 juta sampai 13 juta rupiah per ton.

“Barang seperti ini sangat dibutuhkan di Singapura, bahkan sampai ke tingkat lokal.” kata dia.

Karena membutuhkan bahan baku lebih banyaklah yang menjadi alasan Indra untuk menggandeng orang yang ingin bermitra dalam bisnis ini.

Leave a Reply