Bisnis Coffee Shop: Bergaya 1970an Stetsel Raup Omset 35 Juta / Bulan

coffee-time-header

Siapa yang tak suka kopi. Minuman dengan warna dominan hitam ini dinikmati semua kalangan. Dari emperan hingga kelas bonafit. Dari warung kaki lima, hingga berkelas seperti di hotel berbintang lima.

Dari harga tiga ribu hingga ratusan ribu, setiap orang ingin menikmati secangkir kopi. Alasannya beragam. Jika dulu alasan yang akrab didengar untuk pengusir kantuk, sekarang tidak lagi.

Minum kopi kini sudah naik kelas menjadi gaya hidup.

Alasan itu juga yang membuat bisnis kopi berkembang pesat. Dari petaninya hingga ke muara akhir. Penyajian kopi dalam secangkir gelas. Baik itu warung kopi tiam yang mengedepankan konsep tradisional atau coffee yang menonjolkan pengolahan kopi secara modern.

Kali ini saya akan membahas mengenai coffee shop. Alasannya tempat tongkrongan dengan label ini tumbuh pesat. Ini bisa dilihat ketika saya menginjakkan kaki di Pontianak.

Contoh Kasus Bisnis Coffee Shop: Omset Rp 35 Juta / Bulan

Coffee shop tidak hanya menawarkan secangkir kopi bagi penggilanya. Akan tetap menu yang ditawarkan lebih lengkap dan berkelas. Tentu dengan harga menu yang lebih tinggi daripada warung kopi kebanyakan.

Dari sisi desain tempat, coffee shop harus membuat tampilan yang beda. Dengan begitu tempat tongkrongan ini menjadi magnet bagi pecinta kopi.

coffee shop

Seperti STELSEL, di Jalan Putri Candramidi Pontianak Kalimantan Barat. Coffee shop bergaya campuran western tahun 1970an dan 1980an. Desain ruangan didominasi ornamen dari bahan kayu.

Ketika saya berkunjung, kafe ini ramai oleh para konsumennya. Kebanyakan dari mereka adalah anak-anak muda. Mereka duduk di kursi-kursi kayu yang dibiarkan polos tanpa polesan, sembari menikmati kopi di sana.

Poster-poster artis dan band di era itu, berseling dengan goresan kapur nan artistik menempel di sisi-sisi dinding interior kedai itu. Sementara mesin pembuat ekspreso dan mesin penggeling kopi berdiri berdampingan di atas meja barista.

Di sini tersaji Espresso, Cappuccino, Macchiato Caffè Latte dan lain-lain. Segmen pasarnya adalah masyarakat umum. Akan tetapi, menjelang sore hari lebih didominasi kalangan pelajar. Beda lagi jika malam hari. Latar belakang pelanggannya, pekerja kantoran dan mahasiswa.

Wilda, pemilik Coffee Shop menuturkan sudah setahun terakhir membuka tempat ini. Inspirasinya adalah tempat-tempat sejenis yang tumbuh subur di Bandung.

Beranjak dari sana, dia membangun bisnis serupa di Pontianak namun tidak melupakan cita rasa kopi aslinya namun dengan wujud yang baru.

“Pontianak itu terkenal dengan warung kopinya. Sebagian besar konsepnya masih sama. Jenis kopinya juga robusta dengan sajian kopi hitam atau kopi susu saja. Kami ingin menampilkan variasi racikan kopi yang lebih premium, dan suasana tempat yang lebih tematik,” ungkapnya.

Wildan sendiri awalnya ragu untuk berbisnis coffee shop lantaran kebiasaan masyarakat Pontianak yang sangat akrab dengan warung kopi. Namun makin ke sini, ternyata semakin ramai. Belakangan usaha serupa mulai banyak berdiri di Pontianak.

“Makin ramai pesaingnya. Meski harga yang ditawarkan cukup tinggi tapi kami menawarkan kualitas. Dengan berbagai kopi pilihan kami terus bereksperiman menciptakan varian baru,” tuturnya.

Lalu berapa omzet Stelsel?

Wildan mengaku dalam sebulan mampu meraup Rp 30 – 35 juta. Angka tersebut juga berasal dari penjualan kopi bubuk produksi sendiri yang mereka pasarkan ke beberapa coffee shop di Pontianak.

Sedangkan modal awal kedai ini hanya Rp 90 juta, sudah termasuk sewa tempat, dekorasi, renovasi, peralatan dan lain-lain.

Kalau di Jalan Gajahmada terkenal dengan warung kopinya.

Kawasan Putri Candramidi dan sekitarnya memang ramai dengan coffee shop. Selain Stelsel adapula Country Café. Kafe ini mengambil tema country. Sebuah budaya masa lampau dari Amerika.

Owner Kafe Country, Ryan Satriadi mengatakan dirinya awalnya tertarik untuk membuka warung kopi tradisional.

“Tapi di sini kebanyakan adalah kafe. Saya pikir kenapa tidak ikut saja bikin coffee shop. Karena untuk warkop sudah ada kawasannya di Jalan Gajah Mada. Mungkin Jalan Candramidi bisa dikhususkan untuk kafe dan coffee shop,” jelasnya.

Leave a Reply