Bisnis Burung Berkicau: Hobi yang Beromzet Puluhan Juta

BISNIS BURUNG KICAU – Menjalankan bisnis itu tidak semata-mata hanya karena peluang dan ketersediaan modal. Justru ada yang diawali karena hobi. Lama-kelamaan menjadi peluang yang sayang untuk dilepas.

Contohnya burung berkicau. Siapa yang sangka hobi ini bisa menjadi ide bisnis yang cukup cemerlang. Dan para penghobi burung berkicau pun tak sedikit.

bisnis burung berkicau kicau

Burung kicauan salah satu hewan yang dicari banyak orang. Harganya bervariatif. Mulai dari amprahan seharga Rp 25 ribu hingga sudah jadi burung kicauan dengan harga puluhan sampai ratusan juta.

Tingginya nilai itu membuat Anen yang awalnya hobi dengan burung berkicau lalu memutuskan membuka usaha yang sama dengan hobinya. Sudah delapan tahun bisnis burung berkicau ini berdiri.

Ada beragam burung yang dijualnya. Mulai dari murai baru, cicak hijau, cicak rowo dan kenari. Sebagian besar burung yang dijual, adalah burung yang biasa ikut lomba.

“Berawal hobi, kemudian dikembangkan menjadi usaha,” cerita Anen.

Burung yang dijual ini merupakan hasil tangkapan di hutan. Namun ada juga yang berasal dari peternakan. Karena masih muda dan kicauannya belum terbentuk harga jualnya pun murah. Hanya Rp 25 ribu. Jika sudah jadi, harganya bisa jutaan.

Selain menjual burung, Anen juga menjual kebutuhan burung berkicau. Seperti sangkar, pakan dan tempat mandi burung. Untuk sangkar bentuknya beragam. Ada kotak dan bulat. Begitu juga motifnya. Dari motif naga, klub sepakbola dan motif lainnya.

Harga yang ditawarkan pun beragam. Dari puluhan ribu hingga ratusan ribu. Semakin bagus sangkar harganya pun semakin tinggi. Meski tidak menjual sangkar lokal, Anen menyediakan jasa perbaikan untuk sangkar-sangkar yang rusak.

Begitu juga dengan pakan yang dijualnya dengan harga bervariatif. Sebagian besar sangkar itu didatangkan dari Jakarta.

Sayangnya Anen belum mau membocorkan omset yang diperolehnya setiap bulan. Dia hanya menyebutkan setiap sangkar yang datang selalu habis dibeli.
“Sekali datang biasanya ratusan sangkar. Dan itu langsung dikirim ke berbagai daerah,” pungkasnya.

Selain Anen, ada juga Sadikin yang bergelut di bisnis burung berkicau. Tokonya terletak di Jalan Puyuh, Kecamatan Pontianak Barat, Kalimantan Barat.

Tokonya yang kecil dan dipenuhi burung dan sangkarnya. Ada juga pakan serta vitamin untuk burung yang dijual Sadikin. Pangan untuk burung tidak hanya dalam bentuk kemasan. Ada juga berbentuk alami, seperti jangkrik dan ulat.

Bisnis burung berkicau ini sudah tiga tahun dijalani. Dia sudah berkali-kali ganti sektor usaha. Pilihan terakhirnya jatuh ke bisnis burung berkicau. Untuk mempermudah pengawasan, Sadikin memasang CCTV di sudut tokonya.

Menurut Sadikin, sebagian besar produk yang dijual itu datang dari Semarang, kecuali burung. Hewan yang berkembang biak dengan cara bertelur itu diperolehnya dari peternak atau tangkapan dari hutan.

Biasanya itu burung yang kicauannya belum terbentuk dengan baik. Jika demikian disebut burung amprahan. Seperti cicak hijau, cicak jenggot, murai, kacir dan kenari.

“Harganya pun murah hanya Rp10 ribu. Kalau sudah jadi relatif dan tak bisa patok harga, karena bisa saja harganya sangat tinggi,” pungkasnya.

Kicauan Burung Bagus, Harga Jual pun Meroket

Catatan penting dari bisnis burung berkicau ini adalah, harga burung berkicau tak kepalang tanggung.

Jika kicauannya semakin bagus, maka harga jual pun meroket. Saking tinggi, harganya bisa mencapai ratusan juta.

Hanya saja tidak mudah mendapatkan seekor burung yang kicauannya cukup bagus. Butuh proses yang teliti ketika merawat dari awal.

Sutrisno penghobi burung berkicau ini menuturkan merawat burung itu tak jauh berbeda dengan merawat bayi. Berawal dari membeli burung amparahan atau burung tangkapan. Harganya memang murah. Berkisar antara Rp 10 – 25 ribu. Dengan perawatan yang baik, dalam waktu enam bulan burung sudah bisa berkicau.

Setelah itu baru burung diadu. Biasanya disebut dirunti. Karena masih berusia muda, proses ini hanya dilakukan kecil-kecilan. Tujuannya untuk melatih kicauan burung agar semakin bagus.

Sutrisno bukan orang baru didunia burung berkicau. Hobi ini dilakoninya sejak lama. Untung rugi pun sudah dirasakannya. Dia bahkan pernah memiliki peternakan burung. Karena kesibukan peternakan itu tidak dilanjutkan.

“Harus fokus, jadi tidak memiliki waktu lagi,” kata dia.

Menumpuknya kesibukan bukan berarti hobi itu hilang begitu saja. Justru dia sekarang lebih aktif, tetapi sebagai juri dalam kontes atau perlombaan burung berkicau.

Bisnis Burung Berkicau: Burung Bernilai Tinggi

Menurutnya, ada beberapa kriteria yang menandakan seekor burung memiliki nilai tinggi. Pertama itu irama dari kicauannya, kemudian stabilitas iramanya, volume dan gaya.

“Gaya burung ketika berkicau bisa seperti penyanyi dangdut yang berjoget. Meskipun tidak bergaya, tetapi iramanya bagus dan bernilai tinggi bisa memenangkan kontes karena itu penilaian utamanya,” jelas Sutrisno.

Untuk irama pun, lanjut dia, tetap diperhatikan. Misalnya tinggi, rendah, panjang, pendek dan masteran kicauan burung. Misalkan dalam satu napas burung bisa mengeluarkan beberapa kicauan irama.

Namun kicauan setiap burung sendiri tidaklah selalu sama. Misalnya burung cicak rowo. Kicauan burung ini lebih dikenal dengan sebutan roll.

“Semakin bagus kicauan burung, maka harganya makin mahal. Begitu juga untuk burung yang menang kontes. Harganya bisa sampai ratusan juta,” ungkapnya.

Tak menutup kemungkinan, lanjut dia, harganya semakin tinggi. Disinilah burung dianggap memiliki nilai ekonomis. Hanya saja karena rasa sayang, pemilik enggan menjual burung peliharaannya.

“Burung dengan harga murah pun bisa meraih juara, asalkan kualitas suaranya bagus. Harga burung tak menjadi patokan mendapatkan prestasi, apakah itu mahal atau tidak,” ungkapnya.

Pada dasarnya, lanjut dia, banyak nilai ekonomis yang bisa tumbuh dari hobi burung berkicau. Dia mencontohkan ketika ada perlombaan burung berkicau, secara otomatis, kawasan yang digunakan akan dipadati masyarakat.

Mereka yang datang tidak hanya peserta. Bisa juga masyarakat yang hadir atau para penjual makanan dan minuman ringan.

“Secara otomatis ini menguntungkan. Apalagi sekarang sering kontes. Oleh karena itu, pemerintah harus jeli dan memberikan perhatian pada komunitas berkicau. Apalagi hobi ini sebagai pemersatu berbagai kalangan. Tak pandang suku, ras, tua dan muda,” pungkasnya.

Leave a Reply