Biografi Dewi Sartika, Pahlawan Pendidikan Perempuan Indonesia

Dewi Sartika Google Doodle 132 tahun hari lahir

Sumber: google.co.id

Biografi Dewi Sartika – Di atas adalah ilustrasi Google Doodle yang menggambarkan seorang guru perempuan sedang mengajarkan 6 orang anak perempuan menulis huruf di papan tulis dalam rangka memperingati Hari Lahir Dewi Sartika ke-132 pada tanggal 4 Desember 2016 yang lalu.

Baca Juga: Affandi di Google Doodle Hari ini (1 Mei 2017)

Siapa Dewi Sartika?

Biografi Dewi Sartika Singkat

Raden Dewi Sartika adalah seorang tokoh perintis pendidikan untuk kaum wanita yang lahir di Bandung, 4 Desember 1884, dan meninggal di Tasikmalaya pada tanggal 11 September 1947 di umurnya yang ke-62 tahun.

Dewi Sartika diakui sebagai salah satu dari Pahlawan Nasional oleh Pemerintah Indonesia pada tahun 1966. Dewi Sartika adalah seorang puteri dari suami-istri Raden Somanagara dan Raden Ayu Rajapermas.

Ketika menjadi patih di Bandung, Somanegara pernah menentang Pemerintah Hindia Belanda. Karena itu, akhirnya istrinya dibuang ke Ternate. Dewi Sartika dititipkan kepada pamannya, yaitu Patih Arya Cicalengka.

Biografi Dewi Sartika Lengkap

Biografi Dewi Sartika

Foto Profil Dewi Sartika

Dewi Sartika dilahirkan dari sebuah keluarga priyayi Sunda, Nyi Raden Rajapermas dan Raden Somanagara. Walaupun bertentangan dengan adat pada masa itu, ayah-ibunya bersikukuh untuk menyekolahkan Dewi Sartika di sekolah Belanda.

Setelah ayahnya meninggal dunia, Dewi Sartika diasuh oleh seorang pamannya (kakak ibunya) yang menjadi patih di Cicalengka.

Oleh pamannya itu, ia akhirnya mendapatkan pengetahuan tentang kebudayaan Sunda, sementara wawasan lainnya mengenai kebudayaan Barat, iadapatkan dari seorang nyonya Asisten Residen yang berkebangsaan Belanda.

Sejak kecil, Dewi Sartika sudah menunjukkan bakatnya dalam mendidik dan kegigihannya untuk meraih kemajuan.

Sambil bermain-main di belakang gedung kepatihan, ia seringkali memperagakan praktik di sekolah, belajar baca-tulis, dan bahasa Belanda, kepada para anak-anak pembantu di kepatihan. Sebagai alat bantu belajarnya, ia menggunakan papan bilik kandang kereta, arang, dan pecahan genting.

Saat itu, Dewi Sartika baru mencapai umur sekitar sepuluh tahun, ketika Cicalengka digemparkan oleh kemampuan baca-tulis dan beberapa patah kata dalam bahasa Belanda yang ditunjukkan oleh para anak-anak pembantu kepatihan.

Gempar, karena pada saat itu belum ada seorang anak (apalagi seorang anak rakyat jelata) yang punya kemampuan seperti itu, dan yang mengajarkan adalah seorang anak perempuan.

Setelah ia remaja, Dewi Sartika kembali lagi kepada ibunya yang tinggal di Bandung. Jiwanya yang sudah dewasa semakin membawanya untuk mewujudkan cita-citanya. Hal ini didorong juga oleh pamannya, Bupati Martanagara, yang memang punya keinginan yang sama.

Tapi, walaupun keinginan yang sama dimiliki oleh pamannya, lantas tidak menjadikannya serta merta bisa mewujudkan cita-citanya. Adat yang mengekang para kaum wanita pada saat itu, membuat pamannya mendapatkan kesulitan dan khawatir.

Namun,  karena ia memiliki kegigihan semangat yang tak pernah surut, akhirnya Dewi Sartika dapat meyakinkan pamannya dan diizinkan untuk mendirikan sekolah untuk para perempuan.

Pada tahun 1906, Dewi Sartika menikah dengan Raden Kanduruan Agah Suriawinata, dari pernikahannya tersebut, ia dikaruniai seorang putra bernama R. Atot, yang merupakan Ketua Umum dari BIVB, yaitu sebuah klub sepak bola yang merupakan cikal bakal dari Persib Bandung.

Dewi Sartika Bersama Suami

Dewi Sartika Bersama Suami

Suami dari Dewi Sartika punya visi dan cita-cita yang sama dengan yang dimiliki oleh Dewi Sartika, guru di sekolah Karang Pamulang, yang waktu itu merupakan sekolah Latihan Guru.

Sejak tahun 1902, Dewi Sartika sudah mulai merintis pendidikan bagi kaum perempuan.

Di sebuah ruangan yang kecil, tepatnya di belakang rumah ibunya di Bandung, Dewi Sartika mengajarkan anggota keluarganya yang perempuan. Materi yang ia ajarkan pada saat itu adalah merenda, memasak, jahit-menjahit, membaca, menulis dan sebagainya.

Setelah berkonsultasi dengan Bupati R.A.A Martanagara, pada tanggal 16 Januari 1904, Dewi Sartika membuka Sakola Istri (Sekolah Perempuan) pertama se-Hindia Belanda.

Tenaga pengajarnya terdiri dari 3 orang, yaitu Dewi Sartika dengan dibantu oleh dua saudara misannya, Ny. Poerwa dan Nyi. Oewid.

Murid-murid di angkatan pertamanya berjumlah dari 20 orang, dengan menggunakan ruangan pendopo kabupaten Bandung.

Dewi Sartika Bersama Murid-murid Perempuan

Dewi Sartika Bersama Para Murid

Setahun kemudian, tepatnya pada tahun 1905, sekolahnya menambah kelas, sehingga lalu pindah ke Jalan Ciguriang, Kebon Cau.

Lokasi baru ini dibeli oleh Dewi Sartika dengan uang tabungannya sendiri, serta bantuan dana pribadi dari Bupati Bandung.

Pada tahun 1909, akhirnya lulusan pertama keluar, dan bahasa sunda bisa lebih memenuhi syarat kelengkapan sekolah formal.

Pada tahun-tahun selanjutnya di beberapa wilayah Pasundan mulai bermunculan beberapa Sakola Istri, terutama yang dikelola oleh para perempuan Sunda yang punya cita-cita yang sama dengan Dewi Sartika.

Pada tahun 1912, alhasil berdirilah 9 Sakola Istri di kota-kota kabupaten (setengah dari seluruh kota kabupaten se-Pasundan). Memasuki usia ke-10, pada tahun 1914, nama sekolahnya akhirnya diganti menjadi Sakola Kautamaan Istri (Sekolah Keutamaan Perempuan).

Bangunan Sekolah Dewi Sartika

Bangunan Sakola Kautamaan Istri

Kota-kota kabupaten wilayah Pasundan yang belum punya Sakola Kautamaan Istri tinggal 3 atau 4, semangat ini sampai ke Bukittinggi, di mana Sakola Kautamaan Istri didirikan oleh Encik Rama Saleh.

Semua wilayah Pasundan lengkap mempunyai Sakola Kautamaan Istri di setiap kota kabupatennya pada tahun 1920, ditambah dengan beberapa yang berdiri di kota kewedanaan.

Pada bulan September 1929, Dewi Sartika menyelenggarakan peringatan pendirian sekolahnya yang sudah berumur 25 tahun, yang lalu berganti nama menjadi “Sakola Raden Déwi”.

Atas jasanya dalam bidang inilah, Dewi Sartika dianugerahi sebagai bintang jasa oleh pemerintah Hindia Belanda.

Dewi Sartika meninggal pada tanggal 11 September 1947 di Tasikmalaya, dan dimakamkan dalam suatu upacara pemakaman sederhana di pemakaman Cigagadon-Desa Rahayu Kecamatan Cineam.

3 tahun kemudian, dimakamkan kembali di kompleks Pemakaman Bupati Bandung di Jalan Karang Anyar, Kabupaten Bandung.

Jangan tanya apa yang sudah diberikan negara kepadamu, tapi tanyalah apa yang sudah kamu berikan untuk negaramu.

Kata bijak di atas sangatlah tepat untuk menjadi panduan bagi semua bangsa yang hendak menobatkan seseorang sebagai penerima gelar terhormat ‘pahlawan’ di negaranya.

Terlepas dari cara atau bentuk perjuangannya, seorang pahlawan pastilah sudah berbuat sesuatu yang heroik bagi bangsanya, sesuai kondisi zamannya.

Begitu juga halnya dengan Raden Dewi Sartika. Kalau pahlawan yang lain melakukan perjuangan bagi bangsanya lewat perang frontal seperti angkat senjata, Dewi Sartika memilih untuk berjuang dengan pendidikan, yaitu dengan mendirikan sekolah.

Berbagai rintangan, khususnya di bidang pendanaan operasional sekolah yang didirikannya seringkali ia dihadapi.

Tapi, karena kegigihan dan ketulusan dari hatinya untuk membangun masyarakat negeri tercintanya, sekolah yang ia didirikan sebagai sarana pendidikan kaum wanita bisa terus berdiri, bahkan menjadi panutan di daerah-daerah lain.


Incoming terms: biografi dewi sartika, biografi dewi sartika singkat, biografi dewi sartika lengkap.

Leave a Reply