Anak Pertama, Bahunya Harus Sekuat Baja, Hatinya Harus Setegar Karang

via provoke-online.com

Beginilah anak pertama…
Bahunya harus sekuat baja, hatinya harus setegar karang.

Tak ada yang tahu bagaimana dalam proses perjuangannya yang terlihat tangguh dan tegar itu ia bisa menangis sejadi-jadinya sendirian, ia tertatih berusaha melawan keterbatasan, ia bersikeras menerjang nasib keberuntungan.

Tak ada tempat meminta tolong bagi anak pertama, kecuali dirinya sendiri dan Allah. Tak ada tempat meminta yang akan menjadikannya payah, tak ada tempat merengek yg akan membuatnya tampak lemah.

Ketika terpaksa meminjam pada teman, hati kecilnya selalu berteriak, “Saya harus segera sukses agar kelak bisa bantu orang lain juga.” Ya, mandiri. Dibentuk mandiri atau terbentuk mandiri.

via lifehack.org

Menurut penelitian, anak pertama perempuan berpotensi lebih hebat dari anak pertama laki-laki. Mungkin itu karena anak pertama perempuan merasakan pahit kehidupannya saat masih menjadi anak-anak. Naluri keibuan memanggilnya untuk tidak membiarkan anak-anaknya kelak menderita sepertinya.

Aku menggadaikan masa remajaku hanya menjadi kutu buku untuk bisa dapat beasiswa sejak SMP sampai lulus kuliah. Motivasiku adalah agar punya bekal untuk mendidik anak dan menopang ekonomi keluarga.

Alhamdulillah punya suami juga anak pertama. Sehati sepaham dalam berjuang menjalani kehidupan. Betapapun kami mengalah pada kehidupan sebelumnya, meskipun tak banyak prestasi yang kami capai, yang terpenting hidup anak-anak kami kelak harus lebih mudah dari kami.

Itulah kami, anak pertama yang sering tak diperhitungkan.

Kata Elsa Nastasia dalam curhatan di blognya.

Sumber artikel: elsanastasia.com

Leave a Reply